Assalamualaikum teman-temanku semua! Ingin menjawab pertanyaan ini.
Kita bahas dulu mengenai ujian ya.
As a human being, tentu saja aku pernah merasakan yang namanya ujian, feeling lost, atau berbagai rasa susah lainnya, and even now I have my own struggles. Fyi selama kita masih hidup di dunia, kita semua tuh pasti diuji ya teman-teman. It even promised in the Quran.
Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,
(al-Baqarah:155)
Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?
(al-Ankabut:2)
Mungkin ada kalanya kita wondering atau bahkan iri melihat orang lain yang hidupnya terlihat seperti sempurna tanpa ujian, tapi percaya deh setiap orang itu pasti Allah uji sesuai kapasitasnya masing-masing.
Contohnya nih dulu ada teman smp yang aku kagum banget sama dia. Udah anaknya cantik, baik, pinter, mandiri, dari keluarga berada pula. Kek semua tuh terlihat perfect. Suatu hari kita berencana mau daftar SMA barengan ke salah satu boarding school yang ternyata uang masuknya lumayan mahal. Singkat cerita dia masuk boarding school tersebut dan aku harus memilih sekolah lain karena keterbatasan biaya. Saat itu aku kek ngebatin dalam hati tapi bukan yang iri atau gimana
”wih enak banget ya kayanya jadi dia, udah pinter, cantik, ….coba aja kalo misal…....”
Ps: Ini ga boleh ditiru ya guys! berandai-andai atas sesuatu yang telah terjadi dan berat hati atas apa yang telah Allah tetapkan.
Setahun berlalu kita janjian untuk bertemu. Di pertemuan itu dia menceritakan bahwa neneknya yang menemani dia sedari kecil meninggal saat dia berada di pondok, jauh dari rumah. Disitu aku sedih banget karena aku juga dibesarkan oleh nenek dari kecil jadi bisa bayangin sesedih apa dia waktu itu. Setelah mendengar banyak cerita dari dia, ternyata dia sering dirumah sendiri karena kakaknya kuliah dan kedua orang tuanya sibuk bekerja di luar kota. Dari situ aku sadar kalau kita semua tuh punya ujian kita masing-masing dan sejak saat itu pula aku berhenti membandingkan hidupku dengan orang lain.
Mungkin ada kalanya juga kita bertanya-tanya,
“kenapa harus aku sih yang mendapat ujian ini?”
Jawaban singkatnya, karena Allah tahu kamu yang mampu, bukan orang lain. Allah bakal kasih ujian yang berbeda ke setiap orang karena kita semua punya tingkat kesabaran, toleransi, dan iman yang berbeda satu sama lain, which is why He created each soul with its own capacity which has its own path back to Him.
“Allah tidak membebani seseorang, kecuali menurut kesanggupannya.”
al-Baqarah:286
Terkadang Allah akan memberikan situasi yang sangat sulit di kehidupan kita sampai kita tuh ga bisa melihat kebaikan apa yang akan datang dari hal tersebut. Tapi Allah itu tahu betul bahwa apapun situasi yang sedang kita jalani, pasti dan pasti ada kebaikan buat kita disitu, meskipun kita ga ngerti di awal.
Untuk sedikit merubah perspektif kita ketika mendapat ujian, ada riwayat yang mengatakan kalau diberikannya ujian kepada kita itu tanda kalau Allah sayang sama kita.
Allah tests those He loves most
(Thirmidhi 2396)
I Found this beautiful words from Nazwi ha
When Allah loves you, He tests you. Not to punish, but to purify your heart, strengthen your faith, and draw you closer to Him. Every hardship carries a hidden mercy, every tear is seen, and every test is a reminder that Allah is shaping you for a higher place.
Intinya, masalah atau ujian itu hal yang wajar dan selama kita masih hidup di dunia, kita gaakan bisa lepas darinya. Ujian ini tidak hanya rasa susah ya teman-teman, bisa saja berupa kemudahan, kekayaan, maupun hal-hal lain yang berpotensi melalaikan diri kita dari Allah.
Oke kita bahas mengenai berdoa.
Alhamdulillah sejauh ini Allah masih memberiku hidayah untuk selalu memanjatkan doa regardless of my situation. Karena aku merasa kek
“Kalau aku ga berdoa ke Allah, siapa lagi yang bisa nolongin aku?”
Berdoa itu sendiri juga merupakan bentuk taufik (guidance) dan gift dari Allah buat hambanya. Kek bayangin kita tuh punya direct access untuk meminta sesuatu to the one who knows everything, to the ones who create the heaven and the earth. Masa kita masih gamau berdoa sih? Rugi sekali jika demikian.
Ibaratnya pertolongan Allah itu sangat dekat terus kamu kek
“Meh, ngapain berdoa aku bisa urus sendiri kok”
Like whatt?! Come on… you guys will be missing advantages if you do so.
Balik ke pertanyaan di atas mengenai “malas“ dalam berdoa. Guys, berdoa itu cuma modal menengadahkan tangan dan minta ke Allah. Tinggal minta doang, ga bayar sepeser pun. Dan boleh jadi ujian yang Allah kasih itu karena Allah pengen denger doa-doa kamu. Harus Allah kasih keadaan seperti apa lagi biar kamu mau berdoa?
Memanjatkan doa kepada Allah juga merupakan wujud merendahkan diri kita di hadapan Allah. We are nothing without Him. Dan kebalikannya, kalau kita gamau berdoa ke Allah artinya ada kesombongan di dalam diri kita (naudzubillah).
Usahakan selalu berdoa walaupun kelihatannya hal tersebut tidak mungkin di mata manusia. Ingat kepada siapa kita meminta. You are asking the creator of this whole world. You are asking the one who can grant the impossible. And you’re dua, I’m pretty sure it is very much possible for Him.
Yang bisa kita lakukan setelah berdoa yaitu melakukan usaha/ikhtiar semampu kita, kemudian bertawakkal terhadap apapun hasilnya nanti. If it is for you, it will be yours. If it’s not good for you, Allah (swt) has better plans for you.
Ketika kita menengadahkan tangan untuk berdoa, doa itu ga akan kembali sia-sia karena bakal ada 3 outcome yang sama-sama baik:
Allah kabulkan permintaan kita
ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.” (QS. Al Mu’min: 60).
Allah menunda atau tidak mengabulkan exactly seperti apa yang kita minta tetapi diberi sesuatu yang jauh lebih baik
وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu.” (QS. Al Baqarah: 216)
Disimpan dan jadi pahala kebaikan di akhirat kelak
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: [1] Allah akan segera mengabulkan doanya, [2] Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan [3] Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do’a-do’a kalian.”
(HR. Ahmad 3/18, dari Abu Sa’id; derajat hasan)
Berdoa secara tidak langsung juga bisa menurunkan tingkat stress. Dalam sebuah penelitian di tahun 1991, dikatakan bahwa orang yang intrinsically religious (menjalankan agama karena benar-benar diyakini bukan sekadar demi status sosial atau tekanan eksternal) akan memiliki tingkat stress yang lebih rendah karena memiliki keselarasan yang lebih besar antara keyakinan dengan perilaku, sehingga mereka mengalami lebih sedikit internal conflict dan memiliki sumber coping yang dapat mendukung kesehatan mental mereka (Genia & Shaw, 1991). Sumber coping ini kalau di Islam bisa berbentuk Doa, ibadah, dan tawakal yang bisa menjadi mekanisme regulasi emosi saat menghadapi stres.
Untuk penjelasan lebih lengkap kalian bisa nonton video dari farah ini ya! Pembahasannya sangat mudah dipahami dan seru untuk didengarkan.
Sekian jawaban dari aku. Intinya jangan sampai kita malas buat berdoa apapun kondisi nya, entah dalam keadaan sedih maupun lapang. Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu Allah beri taufik untuk senantiasa berdoa.
Karena jika bukan Allah, siapa lagi yang bisa menolong kita?
Untuk siapapun yang mengirim pertanyaan di atas, kamu harus tahu kalau Allah sesayang itu sama kamu. Ga mungkin kamu ngetik pertanyaan itu ke aku kalau bukan Allah yang menggerakkan hati kamu. That struggle is itself a test and sign that your heart is still alive. Habis ini banyakin berdoa yah! Maybe Allah wants to hear your voice again, or perhaps He wants you to rely on Him alone as you go through the hardships you’re facing right now.
Untuk para reader, jika kalian membaca sampai sejauh ini pastilah Allah yang menggerakkan hati kalian. Semoga ada kebaikan yang bisa diambil.
Ps: Jujur saja aku awalnya ragu untuk menjawab pertanyaan ini karena merasa tidak pantas saja. Tapi entah kenapa kepikiran terus dan Alhamdulillah Allah memudahkanku untuk menyusun tiap kata dalam tulisan ini.
Semua kebenaran dalam tulisan ini berasal dari Allah dan segala kesalahan berasal dari diriku sendiri.
May Allah forgive me and allow you to forget anything incorrect I said. Allahumma Aamiiin…
Barakallahufikum, Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
References
farah. (2023). you’re gonna start making dua after watching this.
Genia, V., & Shaw, D. G. (1991). Religion, Intrinsic-Extrinsic Orientation, and Depression. Review of Religious Research, 32(3), 274. https://doi.org/10.2307/3511212

