Hai teman-teman! Ingin menjawab pertanyaan tentang mengapa aku mengurangi exposure musik.
Ada dua pembahasan utama, yaitu dari segi science lalu dari perspektif ku sebagai seorang muslim (teman2 yang bukan muslim bisa skip part ini, tapi kalo mau tetap baca silahkan).
First of all, aku memang tidak punya aplikasi musik seperti spotify, apple music, atau semacamnya, tapi aku sering mendengarkan baik di youtube ataupun sekedar di fyp tiktok, dan sering menggunakannya di vtāku yg sebelumnya. Lately aku sadar, emosi atau mood ku seringkali tergantung terhadap musik apa yang sedang aku dengarkan. Kalau musiknya happy aku ikutan happy, kalo vibes musiknya sedih aku bakal ikutan galau juga.
Kita coba bahas dari sisi science nya.
Beberapa bulan yang lalu, aku melihat video youtube dari Lrnjulie, dimana dia menceritakan pengalamannya tidak mendengarkan musik selama 3 bulan, as a science experiment. Aku sangat merekomendasikan kalian untuk menonton videonya karena dia mencantumkan banyak academic paper disitu yang bisa kalian baca juga. Berikut beberapa pengalaman pribadi yang mendasari alasanku untuk mengurangi musik beserta scientific studies yang aku kutip dari video youtube tersebut.
Ingat sekali dulu ketika aku kalah OSN dan merasa sangat pundung dengan kehidupan ini, aku mendengarkan lagu āusikā sampai mata sembab berhari-hari. Kek instead of looking for other plans, aku menyibukkan diri dengan grieving diiringi lagu tersebut karena merasa ārelateā.
Pernah wondering gasih, kenapa banyak orang justru mendengarkan lagu galau ketika sedang bersedih? Kawakami et al. (2013) dalam penelitiannya bilang kalau mendengarkan lagu sedih menyebabkan orang merasakan āemosi campuranā, jadi kek meskipun lagunya itu sedih, kamu mungkin bakal ngerasain semacam ācomfortā or āhappinessā from it karena kita meromantisasi emosi tersebut.
Julie said in her video:
āSo, instead of unpacking it (your problem) youāre throwing sad music on top of it and then youāre completely identifying with those songs of choice instead of actually evaluating your current stateā.
I was like deymm, this was what I felt.
Ketika aku belajar misalnya, selain red bull terkadang aku butuh banget dengerin musik biar ga ngantuk. Dan jujur saja saat mendengarkan lagu aku merasa lebih semangat TAPI ketika lagunya selesai, semangat belajarku perlahan memudar dan mendorong aku untuk mencoba mencari laguā yang lain agar kembali semangat.
Misalkan lagi, saat aku berjalan sendiri, I used to play my favourite songs terus aku merasa seperti main character di dunia ini, atau kek merasa keren aja, tapi pas headset kulepas sensasi itu pun menghilang.
Jadi intinya aku merasa musik yang aku dengarkan selama ini membuat ku sering daydreaming dan bingung atas emosiku sendiri.
Alasan berikutnya yaitu aku merasakan mulai ada adiksi atau ketergantungan dengan musik. Pada tahun 1993, Brown menyatakan ada 6 ciri utama dari adiksi, dua diantaranya yang aku merasa relate yaitu euforia dan konflik. Euforia berarti seseorang melakukan aktivitas itu untuk mengejar rasa senang, ābuzzā. Sedangkan Konflik merujuk pada masalah yang muncul antara pengguna dengan orang-orang di sekitarnya, atau konflik dalam diri sendiri, akibat aktivitas tersebut. Dari case ku, aku merasa mendengarkan musik somehow memberikan rasa senang tapi itu hanya sementara, dan tidak jarang membuatku mempunyai internal konflik dengan diri sendiri hanya karena merasa relate dengan lagu tersebut.
Julie dalam videonya menyatakan ada beberapa hal yang dia pelajari setelah tidak mendengarkan musik selama 3 bulan. Seperti, lebih merasa āpresenceā , lebih fokus terhadap detail, lebih lebih aware dengan dunia sekitar, dan dengan tidak mendengarkan musik membantu dia untuk lebih bisa mengidentifikasi emosi yang dia rasakan dengan lebih akurat.
Dalam videonya, dia tidak against music karena dia acknowledge kalau musik memang ditemukan hampir di semua culture or civilization that ever existed in the world. Musik juga disebutkan memiliki health benefits seperti menurunkan tanda stres biologis (seperti hormon kortisol), khususnya di lingkungan klinis seperti rumah sakit (Finn & Fancourt, 2018).
Jadi masalah yang dia highlight disini adalah di masa sekarang kita punya akses ke musik secara unlimited dimana kita bisa dengerin itu kapanpun dan selama yang kita mau, and thatās the problem. Karena tidak ada ruang untuk āsilenceā. Intinya dia bilang if you feel like youāre addicted to music, just try not to listen to it for a while and embrace the richness of silence and just be with your own thoughts.
Untuk pembahasan science lebih lengkap dan detail aku sangat merekomendasikan kalian tonton videonya ya! Karena jika aku jelaskan disini akan terlalu panjang hehe.
Kesimpulan : Aku mengurangi exposure musik karena dua hal
Aku seringkali merasakan emotional confusion
Aku merasa mulai ada ketergantungan pada musik saat hendak melakukan suatu hal contohnya belajar.
Oke kita beralih ke pembahasan dari sudut pandangku sebagai Muslim.
Aku ingin desclaimer bahwa aku disini sebagai orang awam ya temanā! dan disini aku tidak membahas apa hukum musik secara mutlak karena banyak sekali pendapat yang berbeda mengenai hal ini.
Tahun 2019 aku memutuskan āhijrahā dari kpop dan berbagai genre musik lainnya (tidak ku ceritakan detailnya disini karena terlalu panjang). Tapi setelah adanya instagram reels dan tiktok aku jadi balik lagi dengerin musik, awalnya kek cuman instrumen2 doang tapi lama kelamaan dengerin lagu yang berlirik. Awal post instagram dan tiktok juga aku jarang pake musik, tapi lama kelamaan backsound itu kek jadi hal wajib, karena kalo gada backsound postinganku jadi kelihatannya membosankan dan krik-krik.
Sejak saat itu aku mikir kek, toh aku masih bisa baca sama hafalin Quran, meskipun masih dengerin musik. Like I see no problem with maintaining these two things dan orang2 kelihatan fine2 aja tuh meskipun mereka dengerin musik, pikirku.
Tapi deep down aku sadar ibadahku udah ga kaya dulu lagi rasanya, aku merasa semakin jauh dari Allah. Di awal tahun 2025 aku ngerasa ākosongā dan kurang khusyuā dalam beribadah. Terus kalau pas waktu senggang aku lebih sering humming lagu2 ketimbang dzikir atau mengingat Allah. Banyak faktor lain tentunya seperti kesibukan kuliah dan lain-lain, tapi aku bahas musik karena itu yang menurutku yang paling ada impact di diri aku, yang before afternya paling kelihatan.
Dan yap seperti yang sudah kuceritakan, lama kelamaan aku mulai memiliki adiksi dengan musik, Iām being dependent on it.
Ini dia akar masalahnya, ketika kita bergantung pada suatu hal yang kita tidak punya kontrol atas hal tersebut, it can be life damaging. Like, one day itās gone.
Bicara soal bergantung, ada suatu waktu di tahun ini yang tanpa diduga Allah kasih aku ujian perasaan dimana aku secara tidak sadar menaruh harapan dan bergantung kepada seseorang. Pada akhirnya aku pun merasakan sakit hati dan kecewa akibat dari perbuatanku sendiri. Disini aku benerā belajar kalau kita itu ga boleh dependent/bergantung terhadap apapun selain kepada Allah. Ini dalam hal apapun, tidak melulu menyangkut manusia, contohnya musik juga in my case, and I learned my lesson the hard way, Alhamdulillah.
Sudah berkali kali juga sebenernya aku melihat postingan yang bilang kalau musik sama Quran itu ga bisa bersatu tapi aku denial. Dan akhirnya aku sekarang relate akan hal tersebut. Meskipun nih ya aku dengerin musik pas lagi belajar, terus nanti pas di bus aku dengerin Quran, I canāt feel anything. Kek yaudah aja gitu kek angin lewat.
Ditambah lagi beberapa hari yang lalu tiba-tiba aku merasa sangat takut akan kematian. Literally aku lagi movie night sama temen2 lalu ada perasaan aneh dimana aku sangat takut kalau tiba2 meninggal. Aku sudah mencoba agar fokus nonton tapi rasa takut itu tetap ada sampai aku benar2 mau menangis dan dalam hati aku terus beristighfar.
Aku mikir kek ā kira-kira dengan amalanku yang segini, apakah cukup nanti buat masuk surga?ā
Disitu aku mikirin postinganāku di sosial media,
āAku ngepost ini niatnya karena Allah apa cuman pengen keliatan keren doang?ā
āKira-kira postingan ini ada manfaatnya ga ya? Apa justru malah jadi dosa jariyah buat akuā
Beberapa hari kemudian aku menonton 2 video dari channel @hippiearab aka farah, video pertama dia membahas tentang āgiving something up for the sake of Allahā lalu di video berikutnya tentang pengalaman dia tentang ālife without musicā. Aku sangat rekomendasiin kalian buat nonton videoā dia karena sebagian besar decision aku juga terinfluence dari dia.
Jujur sangatlah tidak mudah buat aku ninggalin musik temanā, kek misal dulu aku sering banget dengerin āmultoā sama āabout youā tapi sekarang ga lagi, karena jika ditelaah lagi makna lagunya hampir tiada kebaikan disitu hiks.
Ga mudah juga harus mengarsip banyak postinganku yang beberapa udah jutaan views. You named it : dandelions, perjalanan beasiswa, foto sunset, video kucing, dan lain-lain.
Tapi aku meyakinkan diri dan berusaha ingat kalau kita meninggalkan sesuatu karena Allah, nanti Allah bakal ganti sama yang jauh lebih baik.
Jadi kesimpulannya aku berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi mendengarkan musik karena
Mentally, Iām kind of struggling to identify my own emotions, and I feel like Iāve become more dependent on music in my daily life.
Spiritually, I feel that music has affected my connection with the Qurāan. I feel less connected to Allah, and Iām afraid it could become dosa jariyah, especially bcs of the meaningless or inappropriate lyrics in the music I used in my VT.
Sekian teman-teman! Jika kalian membaca sampai detik ini, itu karena Allah yang menggerakkan hati kalian. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari tulisan ini ya! Maaf jika ada salah kata, Barakallahufikum :)
Semua referensi aku cantumkan dibawah.
References
Brown, R. I. F. (1993). Some contributions of the study of gambling to the study of other addictions. Gambling behavior and problem gambling, 1, 241-272.
Finn, S., & Fancourt, D. (2018). The biological impact of listening to music in clinical and nonclinical settings: A systematic review. Progress in Brain Research, 173ā200. https://doi.org/10.1016/bs.pbr.2018.03.007
Kawakami, A., Furukawa, K., Katahira, K., & Okanoya, K. (2013). Sad music induces pleasant emotion. Frontiers in Psychology, 4. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2013.00311
Lrnjulie (2024, April 16). I didnāt listen to music for 3 months (a science experiment) [video]. YouTube.
farah (2023, May 28). giving something up for the sake of Allah [video]. YouTube.
farah (2023, July 21). life without music (my experience) [video]. YouTube.


Bener bgtt. Aku pribadi klo ada lagu yg lagi viral di sosmed (mostly tiktok), bkin aku trus denger lagu itu di postingan manapun(even postingan tmenā yg ikutan tren nya). Dan itu bkin lagu tsb terngiangā di kepala smpe ga sadar malah sering humming lagu itu š. Bikin makin sulit utk hafalin surah surah al-qurāan. Smpe aku mrasa āklo dngerin lagu berulang2 aja bisa hafal secepat itu,knapa utk hafalan nggaā. Akhirnya aku ptusin utk perlahan ganti dnger nasheed,murotal,dzikir pagi petang,stiap kali aku mrasa pgn dngerin lagu. Ditambah aku nemu akun tiktok ka putri dluu yg saat aku liat smua postingannya itu jg goake musik, jdinya aku makin smangat utk istiqamah. Thank you ka, I hope you keep sharing your stories and thoughts through your writing because it helps broaden my perspective too.
I'm still in the denial phase, Kak Put. There are times when I can stop listening to music for a couple of weeks, but somehow I always end up going back to it again. It's a little frustrating, honestly. But I'm trying my best to follow ur journey, and I hope I can get there soon too, especially bcs I can relate to some of the same struggles u've sharedš¤